TALES OF LITTLE BIRD

June 17th, 2006 by lucyana

Tergeletak di tanah, si burung kecil yang terkapar. Badai menghempaskannya jatuh, merenggutkannya dari sarang. Dicoba kepakkan sayapnya yang lemah, tak kuasa. Namun burung kecil bertekad, ia harus hidup! Apa pun caranya…

Sepasang tangan yang kuat namun lembut meraihnya. Diangkatnya sang burung kecil, dimasukkan dalam sangkar. Burung kecil menggelepar, meronta dan mencicit sekuat tenaga. Ia adalah burung liar, ingin lepas bebas.

Langit di luar menungguku! Matahari dan bulan rindu kicauku! Jerit burung kecil putus asa. Betapa menakutkan sangkar ini dan betapa menggiurkan langit biru luas membentang di luar.

Di sini terlalu panas; protes burung kecil. Entah kenapa mata lembut itu menyejukkannya. Di sini terlalu sempit; keluh burung kecil. Lalu belai tangan itu melegakannya. Di sini menakutkan; gerutu burung kecil. Dan dekap mesra menyambutnya, menentramkan gundah hatinya.

Sangkar kecil ini telah menjadi dunianya. Belai mesra, tatapan mata dan dekapan tangan menjadi penuntunnya. Burung kecil bahagia, tak butuh apa pun lagi.

"Kau sudah kuat, saatnya untuk kembali bebas," pemilik tatapan lembut dan belai mesra itu berkata pada si burung kecil suatu ketika. Masih dengan lembut, diambilnya si burung kecil dari sangkarnya. Dilepaskannya menuju dunia bebas.

Burung kecil tak mengerti. Mengapa langit yang dulu dirindukannya menjadi menakutkan? Mengapa matahari dan bulan yang dipujanya menjadi menyakitkan? Ternyata ada yang lebih kejam dari badai. Mungkin ini saat untuk menyerah. Terjatuh ke tanah, terkapar, hancur dan mati. Kembali menjadi debu, tanpa tangis.

Diinspirasikan olehmu, ketika kau berpikir untuk meninggalkanku.

kost-an 11 Juni 2006

MASOCHIS

June 9th, 2006 by lucyana

mungkin kau adalah duri

yang menusuk masuk ke tubuhku

menyebarkan pedih ke aliran darahku

namun kunikmati

mungkin kau adalah luka

yang terus menganga dan mengalirkan darah

tak terhitung tangis dan putus asa

namun kau tetap ada

di dalam beribu nestapa

ku genggam serpihan dari koyakanmu

kucoba rekatkan

sambil terus berharap datangnya keajaiban

sampai nanti

kau tetap di sini

for u c2p

HHMMPPHHH..!!

June 9th, 2006 by lucyana

Badai itu datang

kupaksakan tinggalkan sarang

kusadar sayapku belum kuat benar

kakiku pun masih gemetar

namun sarang nyaman ternyata berduri

dan langit biru menantang menanti

mungkin ku’kan terkapar, tersudut dan mati

namun telah kucoba takdir ini sendiri

hari ini pun

tiada tangis lagi ….

AAGHH…!!!

June 9th, 2006 by lucyana

Ternyata luka tak hanya melumpuhkan

rasakan yang lain dari perih

saat sendiri menjelma sunyi

coba warnai sepi

bahagia hanya sebutir debu dalam badai hidup

ku genggam satu

beribu kecewa menamparmu

ketika cinta tak bisa jadi harapan

benci dan dendam kujadikan pegangan

dan kan kalian lihat

aku lebih kuat dari setan

untuk calon orangtua

berpikirlah sebelum kau memutuskan menghadirkan anakmu ke dunia

Budak

March 26th, 2006 by lucyana

Aku adalah budaknya budak kaum terjajah

Belenggu duri mengikat seluruh tubuhku

Gumpalan norma basi menyumpal erat mulutku

Kepingan doktrin kuno menghancurkan otakku

            Aku adalah budaknya budak kaum terjajajah

            Tak bias kuberbicara dengan bahasaku

            Mereka menyebutku tak intelek

            Tak bisa kurayakan tubuhku

            Mereka menyebutku tak bermoral

            Tak bisa kuberbuat menurut pemikiranku

            Mereka menyebutku binal

Aku adalah budaknya budak kaum terjajah

Budaya asing adalah tuan besarku

Uang adalah majikan utamaku

Norma basi menjadi kerangkengku

Aku seorang budak dari bangsa yang diperbudak

Karena aku perempuan

Karena tubuh dan pemikiranku bukan hakku lagi

Aku seorang budak ….

SERUNAI MALAIKAT

March 26th, 2006 by lucyana

Tidak kau dengarkah suara itu? Mungkin suara malaikat bernyanyi? Tidak? Kau tidak mendengarnya? Mungkinkah telingamu ditulikan oleh dunia ini? Kau terlalu sibuk mendengar tik tok jam. Mencoba melihat waktu yang terus berjalan mendahuluimu. Mencoba menggandeng asa yang telah melompat jauh di depanmu. Masihkah kau ingat saat kau terlahir sebagai manusia. Dan coba sekarang bercerminlah. Tidakkah kau merasa kau hanyalah sebuah mesin yang berdaging dan berdarah?

            Jangan menunduk menjauhi tatapanku. Lihatlah ini. Lihatlah wajahku yang terpantul di bola matamu. Aku mencoba menyertaimu di sini. Di dunia gegap yang gempita ini. Mencoba menahanmu dari aliran deras keegoan manusia. Bersama menguraikan simpul-simpul keterikatan dunia, yang dengan normanya membelenggu kita dan dengan kuasa merampas setiap helai nafas kita.

            Wajah lelahmu terkadang terkulai. Pelan kau menggeleng.

            “Ini tak mungkin bisa,” desahmu lirih ketika asamu putus. Desahmu yang berbunyi lain saat kita bersama. Desah yang terdengar di sela badai yang teredam dalam lapisan kulit kita. Dan meledak bersama tetesan-tetesan tubuh kita yang mencair. Kau dan aku, dan satu.

            “Mereka takkan mengizinkan,” bola kaca di rongga matamu menerawang. Menatap salju yang berserpihan di luar jendela. Di belahan lain dunia ini, tempat pelarian yang jauh dari buaian asal, kita masih mencari pengakuan. Serpihan salju yang tak mungkin jatuh di asal kita. Adakah serpihan kenangan pun menyelinap masuk di sel-sel akalmu. Adakah raut wajah kumpulan manusia yang menyebut diri keluarga terekam dalam byte-byte hatimu. Untaian kalimat-kalimat suci dari buku suci. Mengekang kita. Menajiskan tingkahmu dan ku.

            “Ini adalah dosa,” katamu sambil tersenyum.

            “Dan dosa selalu nikmat,” balas suara dari mulutku. Suaraku kah? Atau suara iblis di dasar hatiku. Ah, iblis takkan mau berpayah tinggal di hatiku. Itu hanyalah keputusasaan pribadiku. Dendam kesumatku.

            “Orang akan menganggap kita abnormal,” rokok di bibirmu mengeluarkan asap saat kau bergumam. Kubalas dengan gumaman.

            “Mereka pun tak pernah normal.”

Semua gelar yang kusandang, semua harta yang kukumpulkan, semua ibadah yang kujalankan, tuk pembuktian bahwa aku normal. Pembuktian panjang yang melelahkan. Titik nadir menyampaikan, tak ada yang lurus.

            “Mengapa Tuhan menciptakan Hawa?” tanyamu.

            “Entahlah, tapi mereka memang makhluk cantik yang selalu menghiasi bumi ini,” jawabku.

            “Tapi aku puas dengan ke-adam-anmu. Kau yang serupa denganku. “

dan kudengar lagi nyanyian malaikat dari dalam tubuhmu yang basah. Kami mencoba menyamainya. Malaikat tanpa jenis kelamin.

            Mungkin ini dosa. Mungkin ini kutukan. Tapi kami hanya mencoba meraih, malaikat yang telah lari dari hati.

My Soulmate

March 12th, 2006 by lucyana

saat takdir berbicara
terhempas sebuah tanya
apakah jiwa hanya terbagi dua?
tumbuh dan gugur berganti
lembar-lembar berwarna-warni yang tertulisi
tanpa ikatan, hanya benang bening yang indah
menyatukan semua luka dan tawa
merangkak mencoba untuk bangun dan berdiri
bersama coba basuh semua darah derita
tidak pernah jadi sama karena bukan satu kepala
di simpang siur ini saling ingatkan
tanpamu ku sungguh kesepian
karena kita hanyalah debu tanpa arti
dalam gelora jagat ini

teruntuk: my_di, dulloh, campsaw, jo3nk, umbro, n03rch33, jho3ny, somad, oelil, and all my friends
makasih banget mo trima gw apa adanya dan ga peduli dengan semua keanehan gw

ASA

March 12th, 2006 by lucyana

Dan Tuhan pun menciptakan
tetes hujan yang lembut
yang mampu lubangi kerasnya batu
gemulai bambu yang lemah
yang mampu hadapi amukan badai
maka dalam segala keterbatasanku sebagai manusia
kucoba harapkanmu dengan beribu asa
siapa tahu dalam karang batu hatimu
ada setitik lubang kecil
hingga aku bisa masuk ke dalamnya
dan tinggal di sana

ternyata aku mencintai seorang malaikat
boeat My_Di : ok, im still stupid coz Im still love him

untitled 1

March 8th, 2006 by lucyana

yang datang diam-diam
seperti hujan tengah malam
datang dengan misteri untuk hilang
yang menimbulkan resah dan tanya
kehadirannya menyejukkan
tak disadari dan menenangkan
kepergiannya membawa sepi
ada luka menganga tak tertambal di sini

untuk seseorang yang selalu mendampingiku saat kubutuh
ku sangat menghargai keberadaanmu

benci

March 6th, 2006 by lucyana

jangan bicarakan luka

karenaku tau gelapnya bianglala

jerat sang matahari

cekik, bunuh!

tapi ternyata ia hanya serpihan semesta

ini mungkin airmata

berbau kelam seperti malam

dosa nikmat bawa ke surga

titip pada malaikat

kutantang kau hari ini!

saat di perbatasan benci…