Jakarta yang kemarau. Namun teriknya tak mampu menyentuh di ruangan berpendingin yang sejuk ini. Secangkir kopi pengusir jenuh. Pekerjaan siswa di sebelah kiriku menumpuk penuh. Matahari di luar jendela. Panas pasti. We Wish You Merry Christmas mengudara. Terlalu awal memang untuk merayakan Natal. Ringtoneku. Di layarnya terpampang private number.
“ Halo…”
‘Loe tau ga kalau mau depositoin uang yang paling bagus di bank mana/” tanpa basa-basi. Suara yang dulu sangat kuakrabi.
‘Nggak tau. Tapi yang paling bagus bank pemerintahlah. Lebih terjamin. Lo kan orang bank, masa ga tau sih?” tanyaku kembali padanya.
‘Nggak tau. Eh, lo jangan hubungin keluarga gue lagi ya?” suaranya tajam menusuk. Membuatku berkernyit.
“ Dua minggu lalu adik lo telepon. Nanya kabar gue doang. Tapi gue udah nggek pernah nelpon ke rumah lo lagi sejak enam bulan yang lalu,” jawabku. Enam bulan yang menyakitkan. Enam bulan yang mengajariku arti pengkhianatan. Tentang siapa… dan mengapa…
“Pokoknya gue nggak mau lo hubungi keluarga gue lagi. Kita kan sudah selesai!” aku tahu itu. Walalu pun bagiku waktu 6 bulan terlalu singkat untuk menghapus kenangan selama 3 tahun.
‘Lagipula gue udah nikah. Sama si…(dia menyebutkan nama salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah menjadi orang ketiga diantara kami).
“ Wah, selamat ya! Kok nggak ngundang-ngundang?’ terkejut aku mendengarnya. Tapi entah kenapa, perih yang dulu selalu mengoyak kini tiada lagi.
‘Kenapa harus ngundang lo? Lo kan bukan siapa-siapa…” ketus balasannya. Inikah nada yang harus selalu dipakai jika cinta sudah usai? Haruskah benci yang hadir untuk menggantikan cinta yang pernah ada?
“Kalau begitu, selamat ya? Semoga elo berbahagia dan rukun selalu,’ balasku menahan sabar di hati.
“Lo tulus? sekarang lo berubah ya?” Dia pasti mengacu pada saat kubersamanya. Saatku selalu berteriak dan menangis histeris ketika kutahu ia tidur dengan perempuan lain. Perempuan yang mau memberikan apa yang tak mau kuberikan padanya. Dari satu perempuan ke perempuan lain. Mencabik hati dan egoku berserpih-serpih. Sekarang dia sudah menemukan dermaganya. Entah kenapa aku turut berbahagia dengan kebahagiaannya.
“Iya, gue tulus menginginkan lo berbahagia bersamanya,”ujarku sambil tersenyum. Aku tahu senyum itu tak akan terlihat olehnya.
“Terimakasih.’ Klik. Terputus. Seperti putusnya hubungan kami. Pintu itu telah tertutup rapat, disegel dan dipatri. Tak ada jalan untuk kembali. Kenangan bersamanya kini hanya sekedar mimpi.
Namun aku sungguh menginginkannya berbahagia. Karena kupernah berbahagia bersamanya dan lebih berbahagia tanpanya. Sekarang tiada lagi mimpi. Berhenti berharap. Semua yang harus terjadi akan terjadi. Sampai nanti….