WAKTUKU
“Lo bae-bae aja
kan ?”
“Iya, gue enggak apa-apa”
“Gue turut berdukacita”
“Nggak apa-apa. Gue udah mengikhlaskannya kok”
“Sori. Gue nggak bisa datang. Gue Cuma bisa telpon. Maaf ya?”
“Nggak apa-apa. Lagipula gue baik-baik aja kok. Makasih ya atas perhatian lo”
“Lo tegar ya? Gue percaya lo bisa menghadapinya”
“Iya. Terimakasih.” Klik. Telepon pun terputus.
Beberapa hari kemudian, saat e-mailku buka. Terpampang pesan. Tidak panjang. Tidak pendek. Namun menyentuh. Begitu menusuk. Tusukan yang hangat. Aksara yang terbaca di
sana , tulisan mesin memang. Tidak natural. Tidak personal, tapi bisa kulihat kehadiran serpihan jiwaku di
sana . Seserpih jiwa yang telah menjadi bagian dari keutuhanku.
Gue bae-bae aja dan akan selalu bae-bae aja. Gue udah mengikhlaskan semua. Ikhlas berarti berhenti berharap, berhenti bermimpi dfan membiarkan semua mengalir. Gue harap lo dan …(dia menyebutkan nama serpihan jiwaku yang lain), juga bisa ikhlas. Gue hanya takut melupakan orang yang telah pergi. Karenanya gue selalu mengingatnya. Tapi dengan mengingatnya justru membuat gue sedih dan menangis.
e-mail itu kubalas dengan singkat. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku tak pernah ditinggalkan untuk selamanya.
Bunga itu indah ketika gugur. Karena gugurlah ia menjadi indah. Kenangan mekarnya sang bunga, menjadikan bunga itu sangat indah.
Dan e-mail pun kututup. Aku tak tahu harus menulis apalagi untuk membalasnya, untuk menghiburnya. Bukan kalimat pujian tapi kehadiranku di sampingnya lah yang dapat menghiburnya. Aku tahu ia terlalu tegar untuk mencari sandaran tempat menangis. Tetap saja manusia membutuhkan manusia lain saat sedih. Padahal dulu ia menyediakan bahunya saat kudikhianati. Ia menyediakan telinganya saat ku ingin memaki.
Aku tahu ia tak akan menuntut apa pun dariku. Serpihan jiwaku itu sangat mengerti aku. Dunia kecilku. Keegoisanku. Bahkan ia masih berterimakasih ketika kuhanya memberikan suara dan aksara mesin padanya.
Akh, 24 jam waktuku. Ke mana mereka pergi?
October 4th, 2006 at 4:50 am
luc,
sangat menyentuh sekali..
sebagian sangat mirip dengan yang gw alami di persimpangan yang lalu dari labirin kehidupan gw.trims ya.
Dahris
October 4th, 2006 at 6:35 pm
dahris, apa kabar? seneng gw liat kabar lo lagi. iya, TUHAN memang memberikan 24 jam waktunya pada kita, tp kenapa kita tetap merasa kurang waktu ya? karena keterbatasan waktu lah makanya gw jarang berhubungan dengan lo, bahkan lewat mesin sekalipun. thx bgt ya dahris, mo hub.gw. keep in touch ya…
January 30th, 2007 at 4:24 am
eh, ini bener Lucy anak sastra yg temannya Sisca itu??..ternyata elo dewasa sekali ya Lus…:) ..pa kabar..??