tentang kepingan jiwaku

Menatap sendu salah satu kepingan jiwaku. Penderitaan menghapuskan cahaya di matanya. Kepahitan memuramkan wajahnya. Ia mencoba tegar di depanku, namun kulihat luka di sekujur hatinya. Dendam dan keinginan untuk membalas menyala di seluruh tubuhnya. Ia berkata-kata dengan makian.

            Kandungan yang dipertahankannya menjadi beban untuknya. Kekasih yang diharapkan kembali demi buah rahim itu, malah menghilang menjauhinya. Masyarakat seakan mengucilkannya, semua hukum tak berpihak padanya. Ia menjadi salah satu korban dari sekian juta perempuan yang terpaksa berkorban di dunia milik lelaki ini.

            Pernah kusarankan untuk meniadakan embrio itu sebelum dia sempat mengecap pahitnya kehidupan. Namun serpihan jiwaku itu kukuh mempertahankannya. Demi cintanya pada lelaki itu. Demi harapannya untuk diakui oleh lelaki itu.

            Dan sekarang dia mungkin melihat impiannya mulai melebur menjadi asap yang akan hilang tertiup angin. Dia pun terluka. Sangat terluka. Aku hanya bisa membisu karena ku pernah merasa ditipu. Aku bersimpati karena mengerti sakitnya dikhianati. Dan aku kecewa karena dunia yang tak pernah juga berubah. Masih di sini: dikuasai oleh laki-laki.

            Serpihan jiwaku, kita hanyalah korban yang harus segera bangkit dengan tubuh lemah dan hati berdarah. Karena hukum dan waktu tidak akan berpihak. Dengan kaki ini, mencoba lagi melangkah sendiri. Ikhlaskan yang sudah terjadi, karena dendam hanya akan membusukkan hati. Pertahankan semua keputusanmu, karena hanya dirimu yang dapat menilai kebenaran di hatimu.

Leave a Reply