Archive for October, 2006

Pulang

Tuesday, October 10th, 2006

jauh sudah aku berjalan

menghadapi segala tantangan

rasakan pahit, rasakan manis

rasakan suka, rasakan duka

tinggi…aku terbang semakin tinggi

lewati awan, hampa udara, hingga kulemas, hingga kujatuh

tapi aku tetap bertahan hidup

tolonglah…tolonglah… beri udara bagi nafasku…

tolonglah…tolonglah… tunjukkan jalan ke rumahku…

kuingat tentang rumahku…

ada teh hangat dan roti bakar

kasur yang empuk bantal yang lembut

dan seorang ibu ucapkan salam…"selamat pagi…"

aku jadi rindu ingin pulang…

saat ku ingin pulang

Yah…Gitulah…

Wednesday, October 4th, 2006

Seorang guru yang katanya ‘Maha’, bertanya pada rekanku. “Mengapa harus ada pelajaran IPS yang membuat rancu semua?” Seandainya ia bertanya padaku, mungkin aku akan melontarkan pertanyaan juga kepadanya. “ Mengapa harus ada orang-orang sepertimu di negeriku, yang dengan sok tahunya menghancurkan semua?”

            Bagiku kehadirannya adalah salah satu bentuk penjajahan modern. Imperialisme baru. Rantai belenggu yang canggih. Bukan mengekang secara fisik, tapi lebih ke arah psikis. Mencoba mencuci otak kita, bahwa semua yang berasal dari ‘barat’ adalah yang ‘ter-‘.; terbaik, terhebat, tercanggih, tersegalanya. Dan mereka menebarkan racun sejak dari bawah, dari generasi muda. Menciptakan bibit-bibit untuk malu kepada bangsanya, malu kepada asal muasalnya dan akhirnya malu kepada dirinya sendiri.

            Bahkan muridku malu kepada bahasanya sendiri: Bahasa Indonesia. Berbagai alasan mereka lontarkan agar mereka tetap dapat memanggilku ‘Miss’ dan bukan ‘Ibu’. Beberapa contoh alasan mereka adalah; aku terlalu muda untuk sebutan Ibu, panggilan Ibu nggak keren, sampai sulit melafalkan kata Ibu. Ohhh… racun imperialisme sudak menyebar ke otak mereka. Kecil-kecil mereka sudah harus terjajah pemikirannya. Virus Anglofilia mendekam di anak-anak sekecil itu.

            Belum lagi anggapan jika tidak menguasai bahasa asing, khususnya Inggris, artinya tidak keren, tidak gaul, kuno, terbelakang, primitif sampai nyaris dicap idiot dan makhluk purba. Bahkan ada beberapa orang yang selalu menyisipkan kata-kata berbau bahasa Inggris, hanya untuk dicap berpendidikan. Padahal mereka sama dengan pedagang-pedagang pasar zaman sastra melayu tionghoa dulu. Membuat rusak struktur bahasa dan menjadikan telinga pendengarnya gatal. Apalagi dicampur dengan Bahasa Inggris berdialek daerah. Astaga, seperti menonton acara lawak saja.

            Mungkin mereka malu menjadi bangsa

Indonesia

. Bangsa yang selalu ditimpa bencana. Bangsa dengan angka korupsi terbesar di dunia. Bangsa yang penduduknya bermental budak, hanya mampu menjadi pesuruh, tak mampu pegang kendali. Hanya mampu mengemis, tak mampu memberi. Masyarakatnya punya

gaya

selangit, walaupun dari hasil kredit. Ya, itulah

Indonesia

. Indonesiaku.

            Kutetap orang

Indonesia

karena yang kuhirup udara

Indonesia

walaupun penuh polusi. Kuminum air

Indonesia

walaupun sarat dengan mercuri. Dan darah yang mengalir deras di tubuhku adalah darah

Indonesia

, walau ku tak pernah yakin siapa yang menabur benih. Aku: orang

Indonesia

. Baik buruknya.

            Kuprihatin dengan bentuk penjajahan baru ini. Kukhawatir dengan sistem pencucian otak ini. Kubersedih dengan semua keadaan ini. Tapi aku hanya orang

Indonesia

yang selalu bertumpu pada kata pasrah dan ikhlas. Maka tulisan ini hanya sekedar menjadi tulisan. Biarkan semua mengalir. Kuikhlaskan semua yang terjadi.

Hari ini nasionalismeku tertusuk dan perih

WAKTUKU

Monday, October 2nd, 2006

“Lo bae-bae aja

kan

?”

“Iya, gue enggak apa-apa”

“Gue turut berdukacita”

“Nggak apa-apa. Gue udah mengikhlaskannya kok”

“Sori. Gue nggak bisa datang. Gue Cuma bisa telpon. Maaf ya?”

“Nggak apa-apa. Lagipula gue baik-baik aja kok. Makasih ya atas perhatian lo”

“Lo tegar ya? Gue percaya lo bisa menghadapinya”

“Iya. Terimakasih.” Klik. Telepon pun terputus.

Beberapa hari kemudian, saat e-mailku buka. Terpampang pesan. Tidak panjang. Tidak pendek. Namun menyentuh. Begitu menusuk. Tusukan yang hangat. Aksara yang terbaca di

sana

, tulisan mesin memang. Tidak natural. Tidak personal, tapi bisa kulihat kehadiran serpihan jiwaku di

sana

. Seserpih jiwa yang telah menjadi bagian dari keutuhanku.

            Gue bae-bae aja dan akan selalu bae-bae aja. Gue udah mengikhlaskan semua. Ikhlas berarti berhenti berharap, berhenti bermimpi dfan membiarkan semua mengalir. Gue harap lo dan …(dia menyebutkan nama serpihan jiwaku yang lain), juga bisa ikhlas. Gue hanya takut melupakan orang yang telah pergi. Karenanya gue selalu mengingatnya. Tapi dengan mengingatnya justru membuat gue sedih dan menangis.

            e-mail itu kubalas dengan singkat. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku tak pernah ditinggalkan untuk selamanya.

            Bunga itu indah ketika gugur. Karena gugurlah ia menjadi indah. Kenangan mekarnya sang bunga, menjadikan bunga itu sangat indah.

            Dan e-mail pun kututup. Aku tak tahu harus menulis apalagi untuk membalasnya, untuk menghiburnya. Bukan kalimat pujian tapi kehadiranku di sampingnya lah yang dapat menghiburnya. Aku tahu ia terlalu tegar untuk mencari sandaran tempat menangis. Tetap saja manusia membutuhkan manusia lain saat sedih. Padahal dulu ia menyediakan bahunya saat kudikhianati. Ia menyediakan telinganya saat ku ingin memaki.

            Aku tahu ia tak akan menuntut apa pun dariku. Serpihan jiwaku itu sangat mengerti aku. Dunia kecilku. Keegoisanku. Bahkan ia masih berterimakasih ketika kuhanya memberikan suara dan aksara mesin padanya.

            Akh, 24 jam waktuku. Ke mana mereka pergi?

tentang kepingan jiwaku

Monday, October 2nd, 2006

Menatap sendu salah satu kepingan jiwaku. Penderitaan menghapuskan cahaya di matanya. Kepahitan memuramkan wajahnya. Ia mencoba tegar di depanku, namun kulihat luka di sekujur hatinya. Dendam dan keinginan untuk membalas menyala di seluruh tubuhnya. Ia berkata-kata dengan makian.

            Kandungan yang dipertahankannya menjadi beban untuknya. Kekasih yang diharapkan kembali demi buah rahim itu, malah menghilang menjauhinya. Masyarakat seakan mengucilkannya, semua hukum tak berpihak padanya. Ia menjadi salah satu korban dari sekian juta perempuan yang terpaksa berkorban di dunia milik lelaki ini.

            Pernah kusarankan untuk meniadakan embrio itu sebelum dia sempat mengecap pahitnya kehidupan. Namun serpihan jiwaku itu kukuh mempertahankannya. Demi cintanya pada lelaki itu. Demi harapannya untuk diakui oleh lelaki itu.

            Dan sekarang dia mungkin melihat impiannya mulai melebur menjadi asap yang akan hilang tertiup angin. Dia pun terluka. Sangat terluka. Aku hanya bisa membisu karena ku pernah merasa ditipu. Aku bersimpati karena mengerti sakitnya dikhianati. Dan aku kecewa karena dunia yang tak pernah juga berubah. Masih di sini: dikuasai oleh laki-laki.

            Serpihan jiwaku, kita hanyalah korban yang harus segera bangkit dengan tubuh lemah dan hati berdarah. Karena hukum dan waktu tidak akan berpihak. Dengan kaki ini, mencoba lagi melangkah sendiri. Ikhlaskan yang sudah terjadi, karena dendam hanya akan membusukkan hati. Pertahankan semua keputusanmu, karena hanya dirimu yang dapat menilai kebenaran di hatimu.