In the middle of the sin

Ketikaku beranjak dewasa, satu pertanyaan terus berkembang di dada. Apakah Tuhan itu menciptakan agama? Kugumuli buku-buku, kucecar para guru, jawablah pertanyaan itu!

Bila Tuhan menciptakan agama, apakah agamaNYA? Mengapakah begitu banyak agama di dunia dan mangapakah kita tidak menganut satu agama saja?

Agama yang mengkotak-kotakkan manusia, memisahkan kita. Dunia yang begitu kecil, semakin sempit terhimpit perbedaan. Apakah Tuhan begitu sombong, hanya memberitahikan rahasianya pada orang-orang pilihan, orang-orang yang menjalankan ibadahnya? Padahal kita semua adalah ciptaanNYA, suka atau tidak. Apakah ada manusia yang meminta dengan sengaja untuk diciptakan?

Dan bila Tuhan tidak menciptakan agama, mengapa banyak orang yang yakin bahwa agamanyalah yang terbaik? Berperang demi agamanya, mati demi keyakinannya, menjalankan ibadahnya dengan sungguh-sungguh, mencerca orang-orang yang berbeda dengannya.

Mencoba menutupi perbedaan, tapi semakin mempertajam jurang pemisah. Berbagai hukum yang dituliskan, memperjelas kotak-kotak yang ada.

Aku hanyalah satu, terbuang dari berbagai sudut. Tak bisa menyangkal, karena dia memang ada. Kuyakinin keberadaanNYa dari setiap sel tubuhku, setiap ruang pemikiranku dan setiap lipatan hatiku. Kusangsikan peraturanNYA melalui lakuku, setiap ucapan dari bibirku dan aksara yang keluar dari tanganku.

Ya Tuhan, jika ini adalah durhaka, aku hanya sekedar bertanya. Karena agama-agamaMu, menghimpit batinku.

di perbatasan dosa

13 Responses to “In the middle of the sin”

  1. ambri Says:

    Tuhan menciptakan banyak agama karena Tuhan menghargai manusia. Dia memberi kita pilihan karena dengan memilih manusia sejatinya adalah mahluk yang bebas…..lagian gak seru lagi kalo agama cuma satu…..perayaannya berarti cuma setahun sekali…..yang berarti libur keagamaannya sedikit dan THRnya jadinya cuma sekali……Mungkin ini juga yang jadi salah satu alasan kenapa Tuhan menciptakan banyak agama…..Dia pengen ngasih kita libur yang banyak……Tuh kan Tuhan memang mengerti umatnya.

  2. ambri Says:

    Cerdas banget seh gw….beruntung banget lo Luc punya teman kayak gw……..

  3. ambri Says:

    Bo foto lo dangdut banget

  4. You-knee Says:

    Agama??? Apa Tuhan menciptakan agama?
    Untuk tahu apa kehendak Dia, bukankah manusia harus mencarinya? harus menggumulinya? dan harus mengimaninya?… lalu pada akhirnya percaya pada iman yang sudah mereka pegang itu? Toh, Tuhan sudah memberikan akal pikiran dan hati nurani untuk berpikir, merasakan, dan pada akhirnya membantu manusia memecahkan setiap masalahnya?
    Tuhan memberikan kebebasan manusia untuk memilih yang terbaik buat dia, termasuk agama itu sendiri. Kalaupun ada sekelompok orang yang melakukan hal2 untuk menunjukan bahwa agama mereka adalah yang terbaik, mungkin itu hanya manifestasi (bener gak sih? Sori, kata yang terlintas cuma ini) dari keimanan mereka. Permasalahannya adalah bukan menutupi perbedaan, tapi MENERIMA perbedaan itu sebagai salah satu karunia Tuhan -suka atau tidak-.
    Otre…:).
    Lus, pas difoto elo kesambet apa? Merinding gw ngeliatnya :).

  5. lucyana Says:

    but i’m still haven’t found what i’m looking for…
    ini foto karya my_dy chayank dengan latar belakang tangan misteriusnya umbridge. cakep kan gw klo abis putus?

  6. Della Says:

    FYI, itu settingnya di kamar gw loh, bo. Hehe..

  7. You-knee Says:

    Cakep? Tapi merinding Bo…Hehehe…

  8. dahris Says:

    ‘coz we’re one of His puppets,
    for this i know He wants us to stick w/ our play..and let Him roll the drama.

  9. lucyana Says:

    kalo ga salah itu pemikirannya si Descartes ya Dahris, atau si ‘crazy’ Nietsche? apa pun lah, gw juga kadang merasa begitu…

  10. You-knee Says:

    So can you tell me about the free will?

  11. Della Says:

    Jun, free will itu film tentang lumba-lumba kan?

  12. You-knee Says:

    waks…
    bukannya lumba2 itu free will….Y? hehehehe…
    mo ngalihin ya?

  13. Jan Says:

    Agama itukan artinya “tidak berjalan”. agama yang ciptain manusia. Tuhan tidak menciptakan agama tetapi Dia datang berkomunikasi sama kita, ditanggapi oleh manusia berdasarkan otaknya jadi agama tapi berdasarkan hatinya jadi iman. jadi yang bikin kotak-kotak ya manusianya juga yang sok kepinteran.Yang aku ngerti sih begitu. Kata Gus Dur. Kok gitu aja repot…..

Leave a Reply