TALES OF LITTLE BIRD
Saturday, June 17th, 2006Tergeletak di tanah, si burung kecil yang terkapar. Badai menghempaskannya jatuh, merenggutkannya dari sarang. Dicoba kepakkan sayapnya yang lemah, tak kuasa. Namun burung kecil bertekad, ia harus hidup! Apa pun caranya…
Sepasang tangan yang kuat namun lembut meraihnya. Diangkatnya sang burung kecil, dimasukkan dalam sangkar. Burung kecil menggelepar, meronta dan mencicit sekuat tenaga. Ia adalah burung liar, ingin lepas bebas.
Langit di luar menungguku! Matahari dan bulan rindu kicauku! Jerit burung kecil putus asa. Betapa menakutkan sangkar ini dan betapa menggiurkan langit biru luas membentang di luar.
Di sini terlalu panas; protes burung kecil. Entah kenapa mata lembut itu menyejukkannya. Di sini terlalu sempit; keluh burung kecil. Lalu belai tangan itu melegakannya. Di sini menakutkan; gerutu burung kecil. Dan dekap mesra menyambutnya, menentramkan gundah hatinya.
Sangkar kecil ini telah menjadi dunianya. Belai mesra, tatapan mata dan dekapan tangan menjadi penuntunnya. Burung kecil bahagia, tak butuh apa pun lagi.
"Kau sudah kuat, saatnya untuk kembali bebas," pemilik tatapan lembut dan belai mesra itu berkata pada si burung kecil suatu ketika. Masih dengan lembut, diambilnya si burung kecil dari sangkarnya. Dilepaskannya menuju dunia bebas.
Burung kecil tak mengerti. Mengapa langit yang dulu dirindukannya menjadi menakutkan? Mengapa matahari dan bulan yang dipujanya menjadi menyakitkan? Ternyata ada yang lebih kejam dari badai. Mungkin ini saat untuk menyerah. Terjatuh ke tanah, terkapar, hancur dan mati. Kembali menjadi debu, tanpa tangis.
Diinspirasikan olehmu, ketika kau berpikir untuk meninggalkanku.
kost-an 11 Juni 2006