Tidak kau dengarkah suara itu? Mungkin suara malaikat bernyanyi? Tidak? Kau tidak mendengarnya? Mungkinkah telingamu ditulikan oleh dunia ini? Kau terlalu sibuk mendengar tik tok jam. Mencoba melihat waktu yang terus berjalan mendahuluimu. Mencoba menggandeng asa yang telah melompat jauh di depanmu. Masihkah kau ingat saat kau terlahir sebagai manusia. Dan coba sekarang bercerminlah. Tidakkah kau merasa kau hanyalah sebuah mesin yang berdaging dan berdarah?
Jangan menunduk menjauhi tatapanku. Lihatlah ini. Lihatlah wajahku yang terpantul di bola matamu. Aku mencoba menyertaimu di sini. Di dunia gegap yang gempita ini. Mencoba menahanmu dari aliran deras keegoan manusia. Bersama menguraikan simpul-simpul keterikatan dunia, yang dengan normanya membelenggu kita dan dengan kuasa merampas setiap helai nafas kita.
Wajah lelahmu terkadang terkulai. Pelan kau menggeleng.
“Ini tak mungkin bisa,” desahmu lirih ketika asamu putus. Desahmu yang berbunyi lain saat kita bersama. Desah yang terdengar di sela badai yang teredam dalam lapisan kulit kita. Dan meledak bersama tetesan-tetesan tubuh kita yang mencair. Kau dan aku, dan satu.
“Mereka takkan mengizinkan,” bola kaca di rongga matamu menerawang. Menatap salju yang berserpihan di luar jendela. Di belahan lain dunia ini, tempat pelarian yang jauh dari buaian asal, kita masih mencari pengakuan. Serpihan salju yang tak mungkin jatuh di asal kita. Adakah serpihan kenangan pun menyelinap masuk di sel-sel akalmu. Adakah raut wajah kumpulan manusia yang menyebut diri keluarga terekam dalam byte-byte hatimu. Untaian kalimat-kalimat suci dari buku suci. Mengekang kita. Menajiskan tingkahmu dan ku.
“Ini adalah dosa,” katamu sambil tersenyum.
“Dan dosa selalu nikmat,” balas suara dari mulutku. Suaraku kah? Atau suara iblis di dasar hatiku. Ah, iblis takkan mau berpayah tinggal di hatiku. Itu hanyalah keputusasaan pribadiku. Dendam kesumatku.
“Orang akan menganggap kita abnormal,” rokok di bibirmu mengeluarkan asap saat kau bergumam. Kubalas dengan gumaman.
“Mereka pun tak pernah normal.”
Semua gelar yang kusandang, semua harta yang kukumpulkan, semua ibadah yang kujalankan, tuk pembuktian bahwa aku normal. Pembuktian panjang yang melelahkan. Titik nadir menyampaikan, tak ada yang lurus.
“Mengapa Tuhan menciptakan Hawa?” tanyamu.
“Entahlah, tapi mereka memang makhluk cantik yang selalu menghiasi bumi ini,” jawabku.
“Tapi aku puas dengan ke-adam-anmu. Kau yang serupa denganku. “
dan kudengar lagi nyanyian malaikat dari dalam tubuhmu yang basah. Kami mencoba menyamainya. Malaikat tanpa jenis kelamin.
Mungkin ini dosa. Mungkin ini kutukan. Tapi kami hanya mencoba meraih, malaikat yang telah lari dari hati.