Percakapan Sore

October 31st, 2007 by lucyana

" jika kau menceritakan rahasiamu kepada rumput, jangan salahkan jika dia menceritakannya pada angin, yang akan menyebarkannya ke dedaunan…"

" tapi kamu adalah makhluk sosial, suatu saat kau perlu membuka hatimu pada manusia lainnya…"

" lalu apakah kamu akan menjamin orang itu akan menjaga rahasia itu, mengingat betapa rapuhnya hati dan mulut manusia. dan apakah kamu akan menjamin dia tidak akan mengkhianatiku? menghancurkanku hingga lebur?"

" kepercayaan adalah keindahan yang dapat diberikan manusia kepada manusia lainnya …"

dan kumenarik kesimpulan: susah jadi manusia …^o^

bukan tetapi

June 5th, 2007 by lucyana

bukan oleh siapa kau dilahirkan

                tapi bagaimana kau dapat menjalani hidup

bukan tentang bagaimana nasib menghampirimu

                tapi bagaimana kau bisa kembali bangkit setelah  begitu dalam terpuruk

bukan apa yang telah menyakitimu dan membuat airmatamu deras mengalir

                 tetapi bagaimana kau menghapus airmatamu dan menggantinya dengan senyuman

bukan tentang seberapa cantik wajahmu

                 tapi seberapa cerdas dirimu menghadapi segala hambatan di depanmu

bukan apa yang telah diberikannya padamu

                 tapi tentang seberapa ikhlas kau memberikannya

dan ini semua bukan tentang apa yang tidak ada pada diriku

                 tetapi kucoba pergunakan semua yang kumiliki dengan bijaksana

saat mencoba berpikir positif ^_^

grrr..mmmh??

May 14th, 2007 by lucyana

akankah tersadar

akan jiwa yang terguncang

berdarah, bernanah, racun yang terus membekas

memang mudah memukulkan palu tuk tancapkan paku

sulit untuk mencabutnya kembali

dan hampir mustahil menghapus bekasnya

tidak dapatkah kau memikirkan ini?

sebelum kau memecutkan luka lewat tajam lidahmu

padahal dengan senyuman dan sedikit pujian

mungkin akan ada bunga di pangkuanmu…

untuk orang-orang yang lebih tertarik mencari kelemahan orang lain

wadduoohh…

December 7th, 2006 by lucyana

ihKarena Tuhan menciptakan hanya satu Hawa untuk satu Adam

dan otak ada di kepala bukan di pangkal paha

ketika kau bertanya tentang izin berpoligami

akankah kau rela aku berpoliandri?

mungkin saat ini otakmu lagi miring ke kanan ke kiri

hingga tindakanmu tidak berhati lagi

untuk kaum yang selalu harus dilayani…

cerita lama

December 7th, 2006 by lucyana

Jakarta yang kemarau. Namun teriknya tak mampu menyentuh di ruangan berpendingin yang sejuk ini. Secangkir kopi pengusir jenuh. Pekerjaan siswa di sebelah kiriku menumpuk penuh. Matahari di luar jendela. Panas pasti. We Wish You Merry Christmas mengudara. Terlalu awal memang untuk merayakan Natal. Ringtoneku. Di layarnya terpampang private number.

            “ Halo…”

            ‘Loe tau ga kalau mau depositoin uang yang paling bagus di bank mana/” tanpa basa-basi. Suara yang dulu sangat kuakrabi.

            ‘Nggak tau. Tapi yang paling bagus bank pemerintahlah. Lebih terjamin. Lo kan orang bank, masa ga tau sih?” tanyaku kembali padanya.

            ‘Nggak tau. Eh, lo jangan hubungin keluarga gue lagi ya?” suaranya tajam menusuk. Membuatku berkernyit.

            “ Dua minggu lalu adik lo telepon. Nanya kabar gue doang. Tapi gue udah nggek pernah nelpon ke rumah lo lagi sejak enam bulan yang lalu,” jawabku. Enam bulan yang menyakitkan. Enam bulan yang mengajariku arti pengkhianatan. Tentang siapa… dan mengapa…

            “Pokoknya gue nggak mau lo hubungi keluarga gue lagi. Kita kan sudah selesai!” aku tahu itu. Walalu pun bagiku waktu 6 bulan terlalu singkat untuk menghapus kenangan selama 3 tahun.

            ‘Lagipula gue udah nikah. Sama si…(dia menyebutkan nama salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah menjadi orang ketiga diantara kami).

            “ Wah, selamat ya! Kok nggak ngundang-ngundang?’ terkejut aku mendengarnya. Tapi entah kenapa, perih yang dulu selalu mengoyak kini tiada lagi.

            ‘Kenapa harus ngundang lo? Lo kan bukan siapa-siapa…” ketus balasannya. Inikah nada yang harus selalu dipakai jika cinta sudah usai? Haruskah benci yang hadir untuk menggantikan cinta yang pernah ada?

            “Kalau begitu, selamat ya? Semoga elo berbahagia dan rukun selalu,’ balasku menahan sabar di hati.

            “Lo tulus? sekarang lo berubah ya?” Dia pasti mengacu pada saat kubersamanya. Saatku selalu berteriak dan menangis histeris ketika kutahu ia tidur dengan perempuan lain. Perempuan yang mau memberikan apa yang tak mau kuberikan padanya. Dari satu perempuan ke perempuan lain. Mencabik hati dan egoku berserpih-serpih. Sekarang dia sudah menemukan dermaganya. Entah kenapa aku turut berbahagia dengan kebahagiaannya.

            “Iya, gue tulus menginginkan lo berbahagia bersamanya,”ujarku sambil tersenyum. Aku tahu senyum itu tak akan terlihat olehnya.

            “Terimakasih.’ Klik. Terputus. Seperti putusnya hubungan kami. Pintu itu telah tertutup rapat, disegel dan dipatri. Tak ada jalan untuk kembali. Kenangan bersamanya kini hanya sekedar mimpi.

            Namun aku sungguh menginginkannya berbahagia. Karena kupernah berbahagia bersamanya dan lebih berbahagia tanpanya. Sekarang tiada lagi mimpi. Berhenti berharap. Semua yang harus terjadi akan terjadi. Sampai nanti….

Pulang

October 10th, 2006 by lucyana

jauh sudah aku berjalan

menghadapi segala tantangan

rasakan pahit, rasakan manis

rasakan suka, rasakan duka

tinggi…aku terbang semakin tinggi

lewati awan, hampa udara, hingga kulemas, hingga kujatuh

tapi aku tetap bertahan hidup

tolonglah…tolonglah… beri udara bagi nafasku…

tolonglah…tolonglah… tunjukkan jalan ke rumahku…

kuingat tentang rumahku…

ada teh hangat dan roti bakar

kasur yang empuk bantal yang lembut

dan seorang ibu ucapkan salam…"selamat pagi…"

aku jadi rindu ingin pulang…

saat ku ingin pulang

Yah…Gitulah…

October 4th, 2006 by lucyana

Seorang guru yang katanya ‘Maha’, bertanya pada rekanku. “Mengapa harus ada pelajaran IPS yang membuat rancu semua?” Seandainya ia bertanya padaku, mungkin aku akan melontarkan pertanyaan juga kepadanya. “ Mengapa harus ada orang-orang sepertimu di negeriku, yang dengan sok tahunya menghancurkan semua?”

            Bagiku kehadirannya adalah salah satu bentuk penjajahan modern. Imperialisme baru. Rantai belenggu yang canggih. Bukan mengekang secara fisik, tapi lebih ke arah psikis. Mencoba mencuci otak kita, bahwa semua yang berasal dari ‘barat’ adalah yang ‘ter-‘.; terbaik, terhebat, tercanggih, tersegalanya. Dan mereka menebarkan racun sejak dari bawah, dari generasi muda. Menciptakan bibit-bibit untuk malu kepada bangsanya, malu kepada asal muasalnya dan akhirnya malu kepada dirinya sendiri.

            Bahkan muridku malu kepada bahasanya sendiri: Bahasa Indonesia. Berbagai alasan mereka lontarkan agar mereka tetap dapat memanggilku ‘Miss’ dan bukan ‘Ibu’. Beberapa contoh alasan mereka adalah; aku terlalu muda untuk sebutan Ibu, panggilan Ibu nggak keren, sampai sulit melafalkan kata Ibu. Ohhh… racun imperialisme sudak menyebar ke otak mereka. Kecil-kecil mereka sudah harus terjajah pemikirannya. Virus Anglofilia mendekam di anak-anak sekecil itu.

            Belum lagi anggapan jika tidak menguasai bahasa asing, khususnya Inggris, artinya tidak keren, tidak gaul, kuno, terbelakang, primitif sampai nyaris dicap idiot dan makhluk purba. Bahkan ada beberapa orang yang selalu menyisipkan kata-kata berbau bahasa Inggris, hanya untuk dicap berpendidikan. Padahal mereka sama dengan pedagang-pedagang pasar zaman sastra melayu tionghoa dulu. Membuat rusak struktur bahasa dan menjadikan telinga pendengarnya gatal. Apalagi dicampur dengan Bahasa Inggris berdialek daerah. Astaga, seperti menonton acara lawak saja.

            Mungkin mereka malu menjadi bangsa

Indonesia

. Bangsa yang selalu ditimpa bencana. Bangsa dengan angka korupsi terbesar di dunia. Bangsa yang penduduknya bermental budak, hanya mampu menjadi pesuruh, tak mampu pegang kendali. Hanya mampu mengemis, tak mampu memberi. Masyarakatnya punya

gaya

selangit, walaupun dari hasil kredit. Ya, itulah

Indonesia

. Indonesiaku.

            Kutetap orang

Indonesia

karena yang kuhirup udara

Indonesia

walaupun penuh polusi. Kuminum air

Indonesia

walaupun sarat dengan mercuri. Dan darah yang mengalir deras di tubuhku adalah darah

Indonesia

, walau ku tak pernah yakin siapa yang menabur benih. Aku: orang

Indonesia

. Baik buruknya.

            Kuprihatin dengan bentuk penjajahan baru ini. Kukhawatir dengan sistem pencucian otak ini. Kubersedih dengan semua keadaan ini. Tapi aku hanya orang

Indonesia

yang selalu bertumpu pada kata pasrah dan ikhlas. Maka tulisan ini hanya sekedar menjadi tulisan. Biarkan semua mengalir. Kuikhlaskan semua yang terjadi.

Hari ini nasionalismeku tertusuk dan perih

WAKTUKU

October 2nd, 2006 by lucyana

“Lo bae-bae aja

kan

?”

“Iya, gue enggak apa-apa”

“Gue turut berdukacita”

“Nggak apa-apa. Gue udah mengikhlaskannya kok”

“Sori. Gue nggak bisa datang. Gue Cuma bisa telpon. Maaf ya?”

“Nggak apa-apa. Lagipula gue baik-baik aja kok. Makasih ya atas perhatian lo”

“Lo tegar ya? Gue percaya lo bisa menghadapinya”

“Iya. Terimakasih.” Klik. Telepon pun terputus.

Beberapa hari kemudian, saat e-mailku buka. Terpampang pesan. Tidak panjang. Tidak pendek. Namun menyentuh. Begitu menusuk. Tusukan yang hangat. Aksara yang terbaca di

sana

, tulisan mesin memang. Tidak natural. Tidak personal, tapi bisa kulihat kehadiran serpihan jiwaku di

sana

. Seserpih jiwa yang telah menjadi bagian dari keutuhanku.

            Gue bae-bae aja dan akan selalu bae-bae aja. Gue udah mengikhlaskan semua. Ikhlas berarti berhenti berharap, berhenti bermimpi dfan membiarkan semua mengalir. Gue harap lo dan …(dia menyebutkan nama serpihan jiwaku yang lain), juga bisa ikhlas. Gue hanya takut melupakan orang yang telah pergi. Karenanya gue selalu mengingatnya. Tapi dengan mengingatnya justru membuat gue sedih dan menangis.

            e-mail itu kubalas dengan singkat. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku tak pernah ditinggalkan untuk selamanya.

            Bunga itu indah ketika gugur. Karena gugurlah ia menjadi indah. Kenangan mekarnya sang bunga, menjadikan bunga itu sangat indah.

            Dan e-mail pun kututup. Aku tak tahu harus menulis apalagi untuk membalasnya, untuk menghiburnya. Bukan kalimat pujian tapi kehadiranku di sampingnya lah yang dapat menghiburnya. Aku tahu ia terlalu tegar untuk mencari sandaran tempat menangis. Tetap saja manusia membutuhkan manusia lain saat sedih. Padahal dulu ia menyediakan bahunya saat kudikhianati. Ia menyediakan telinganya saat ku ingin memaki.

            Aku tahu ia tak akan menuntut apa pun dariku. Serpihan jiwaku itu sangat mengerti aku. Dunia kecilku. Keegoisanku. Bahkan ia masih berterimakasih ketika kuhanya memberikan suara dan aksara mesin padanya.

            Akh, 24 jam waktuku. Ke mana mereka pergi?

tentang kepingan jiwaku

October 2nd, 2006 by lucyana

Menatap sendu salah satu kepingan jiwaku. Penderitaan menghapuskan cahaya di matanya. Kepahitan memuramkan wajahnya. Ia mencoba tegar di depanku, namun kulihat luka di sekujur hatinya. Dendam dan keinginan untuk membalas menyala di seluruh tubuhnya. Ia berkata-kata dengan makian.

            Kandungan yang dipertahankannya menjadi beban untuknya. Kekasih yang diharapkan kembali demi buah rahim itu, malah menghilang menjauhinya. Masyarakat seakan mengucilkannya, semua hukum tak berpihak padanya. Ia menjadi salah satu korban dari sekian juta perempuan yang terpaksa berkorban di dunia milik lelaki ini.

            Pernah kusarankan untuk meniadakan embrio itu sebelum dia sempat mengecap pahitnya kehidupan. Namun serpihan jiwaku itu kukuh mempertahankannya. Demi cintanya pada lelaki itu. Demi harapannya untuk diakui oleh lelaki itu.

            Dan sekarang dia mungkin melihat impiannya mulai melebur menjadi asap yang akan hilang tertiup angin. Dia pun terluka. Sangat terluka. Aku hanya bisa membisu karena ku pernah merasa ditipu. Aku bersimpati karena mengerti sakitnya dikhianati. Dan aku kecewa karena dunia yang tak pernah juga berubah. Masih di sini: dikuasai oleh laki-laki.

            Serpihan jiwaku, kita hanyalah korban yang harus segera bangkit dengan tubuh lemah dan hati berdarah. Karena hukum dan waktu tidak akan berpihak. Dengan kaki ini, mencoba lagi melangkah sendiri. Ikhlaskan yang sudah terjadi, karena dendam hanya akan membusukkan hati. Pertahankan semua keputusanmu, karena hanya dirimu yang dapat menilai kebenaran di hatimu.

In the middle of the sin

September 7th, 2006 by lucyana

Ketikaku beranjak dewasa, satu pertanyaan terus berkembang di dada. Apakah Tuhan itu menciptakan agama? Kugumuli buku-buku, kucecar para guru, jawablah pertanyaan itu!

Bila Tuhan menciptakan agama, apakah agamaNYA? Mengapakah begitu banyak agama di dunia dan mangapakah kita tidak menganut satu agama saja?

Agama yang mengkotak-kotakkan manusia, memisahkan kita. Dunia yang begitu kecil, semakin sempit terhimpit perbedaan. Apakah Tuhan begitu sombong, hanya memberitahikan rahasianya pada orang-orang pilihan, orang-orang yang menjalankan ibadahnya? Padahal kita semua adalah ciptaanNYA, suka atau tidak. Apakah ada manusia yang meminta dengan sengaja untuk diciptakan?

Dan bila Tuhan tidak menciptakan agama, mengapa banyak orang yang yakin bahwa agamanyalah yang terbaik? Berperang demi agamanya, mati demi keyakinannya, menjalankan ibadahnya dengan sungguh-sungguh, mencerca orang-orang yang berbeda dengannya.

Mencoba menutupi perbedaan, tapi semakin mempertajam jurang pemisah. Berbagai hukum yang dituliskan, memperjelas kotak-kotak yang ada.

Aku hanyalah satu, terbuang dari berbagai sudut. Tak bisa menyangkal, karena dia memang ada. Kuyakinin keberadaanNYa dari setiap sel tubuhku, setiap ruang pemikiranku dan setiap lipatan hatiku. Kusangsikan peraturanNYA melalui lakuku, setiap ucapan dari bibirku dan aksara yang keluar dari tanganku.

Ya Tuhan, jika ini adalah durhaka, aku hanya sekedar bertanya. Karena agama-agamaMu, menghimpit batinku.

di perbatasan dosa